Biografi Umair Bin Sa’ad

UMAIR BIN SA’AD
(Tokoh Yang Tiada Duanya)

NASABNYA

Namanya adalah Umair bin Sa’ad bin Ubaid bin Nu’man bin Qais bin Amru bin Auf. Inilah nasabnya menurut Al-Waqidi yang diikuti oleh Ibn Abdil Barr.

Ibn Kalbi mengatakan: Umair bin Sa’ad bin Syuhaid, ibn Amru bin Zaid bin Umayah bin Zaid bin Malik bin Auf bin Amru bin Auf bin Malik bin Al-Aus al-Anshari al-Ausi.

Ayahnya Sa’ad Al-Qari  yang ikut menyertai Rasulullah  dalam perang badar dan peperangan lain sesudahnya, serta setia memegang janjinya, sampai ia kembali menemui Allah  karena syahid dalam pertempuran Qadisiyah melawan Persi. Dibawanya anaknya sewaktu datang kepada Rasulullah  hingga anak itu pun turut bai’at dan masuk Islam.

KEHIDUPANNYA

Semejak memeluk Islam, dan menjadi ahli ibadah yang tidak berpisah dari mihrab masjid, ia meninggalkan segala kemewahan dan pergi bernaung ke bawah sakinah atau kesenangan.
Sukarlah anda mendapatkannya dibarisan pertama, kecuali pada jama’ah shalat, memang ia mempetahankan shaf yang pertama itu untuk mengejar pahala barisan muka, dann di medan jihad, ia selalu bergegas mengejar barisan terdepan, karena ia selalu mendambakan diri untu mendapatkan syahid. Selain dari hal-hal itu, ia tetap tekun memperbanyak amal kebajikan, kepemurahan, kemurahan serta ketaqwaan.

Ia seorang yang cepat menyadari kesalahan dan sering menangisi dosanya. Seorang yang tiada terpikat oleh harta dunia dan selalu mencari jalan kembali pada Tuhannya. Seorang musafir yang merindukan pulang kepada Allah, dalam setiap perjalanan dan setiap pemukiman.

Sungguh, Allah  telah menjadikan hati para sahabat lainnya kasih sayang kepadanya, hingga ia pun menjadi buah hati dan tumpuan kasih mereka. Semua itu karena kekutan imannya, kebersihan jiwanya, ketenangan jalan hidupnya, keharuman akhlaqnya, dan kecemerlangan penampilannya, menerbitkan kegembiraan dan ketenganan bagi setiap orang yang menggauli atau melihatnya. Dan tak seorang atau satu pun yang diutamakannya lebih dari agamanya.

Pada suatu hari didengarnya Jullas bin Suwaid bin Shamit, yang masih menjadi kerabatnya, sedang berbincang-bincang di rumahnya, katanya “Seandainya laki-laki ini memang benar, tentulah kita ini lebih jelek dari keledai-keledai..! yang dimaksudkan dengan laki-laki disini adalah Rasulullah. Sedang Jullas sendiri termasuk di antara orang-orang yang memeluk Islam karena terbawa-bawa keadaan.

Sewaktu Umair bin Sa’ad mendengar kata-kata tersebut, bangkitlah kemarahan dan kebingungan dalam hatinya yang biasa tenang dan tenteram itu. Kemarahan disebabkan oleh seorang yang telah mengaku menganut Islam berani merendahkan Rasul dengan kata-kata yang keji itu…. Dan kebingungan karena fikirannya berjalan cepat tentang tanggung jawabnya terhadap apa yang telah didengarnya dan tak dapat di terimanya…. Akan disampaikannyalah segala apa yang telah didengarnya kepada Rasulullah  ? Bagaimana caranya, padahal ia harus bersifat jujur dalam mengemukakannya ? Ataukah ia akan berdiam diri saja lalu memendam di dalam dadanya semua yang didengarnya ? Bagaimana ? dan dimana kebenaran penuaian dan cinta setianya kepada Rasul , yang telah mengeluarkan mereka dari kegelapan ? Tetapi kebingungannya tidaklah berjalan lama, karena jiwa yang tulus selalu mendapatkan jalan keluar bagi penyelesaiannya ! Dan dengan segera Umair berubah menjadi seorang laki-laki perkasa dan Mu’min yang taqwa. Maka ia menghadapkan pembicaraan kepada Jullas bin Suwaid, katanya : “Demi Allah, hai Jullas ! Engkau adalah orang yang paling kucintai, dan yang paling banyak berjasa kepadaku, dan yang paling tidak kusukai akan ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan. Sungguh, engkau telah melontarkan sesuatu ucapan, seandainya ucapan itu aku sebarkan dan sumbernya darimu, niscaya akan menyakitkan hatimu. Tetapi andaikan kubiarkan saja kata-kata itu, tentulah Agamaku akan binasa padahal haq Agama itu lebih utama ditunaikan. Dari itu aku akan menyampaikan apa yang kudengar kepada Rasulullah .

Demikianlah Umeir telah memenuhi keinginan hatinya yang shalih secara sempurna. Pertama ia telah memenuhi hak majlis dengan amanat, dan dengan jiwanya yang besar membebaskan diri dari berperan sebagai orang yang mendegar-dengarkan kata orang lalu menyampaikannya kepada orang lain. Kedua itu telah menunaikan amanat Agamanya yaitu dengan menyingkapkan sifat kemunafikan yang meragukan. Dan ketiga ia telah memberi kesempatan kepada Jullas untuk kembali kepada Allah  atas kekeliruannya, yakni sewaktu terus terang dikatakannya kepadanya, bahwa persoalan ini akan disampaikannya kepada Rasulullah . Seandainya ia sedia bertaubat dan memohon ampun, maka hati Umeir akan lega karena tak perlu lagi meneruskannya kepada Rasulullah .

Tetapi rupanya Jullas telah dipengaruhi betul-betul oleh rasa sombong dengan dosanya itu, dan tidak ada perasaaan menyesal sedikitpun atau keinginan untuk bertaubat. Hingga terpaksalah Umeir meninggalkan mereka, katanya “Akan kusampaikan pada Rasulullah  sebelum Tuhan menurunkan wahyu yang melibatkan diriku dengan dosamu.”
Rasulullah  setelah mendapat laporan dari Umeir mengirimkan orang mencari Jullas, tetapi setelah dihadapkan ia mengingkari katanya itu, bahkan ia mengangkat sumpah palsu atas nama Allah . Tetapi ayat Al-Qur’an telah datang memisahkan antara yang hak dan yang bathil:

“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya , dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.” (Qs. At-Taubah: 74)

Dengan turunnya ayat ini, terpaksalah Jullas mengakui pembicaraannya, dan meminta ampun atas kesalahannya, teristimewa dikala diperhatikannya ayat yang mulia yang memutuskan menghinakannya, tetapi disaat yang sama menjanjikan rahmat Allah  seandainya ia bertaubat dan mencabut kata-katanya : “Maka seandainya mereka bertaubat, itulah yang terlebih baik untuk mereka.

Dan karenanya tindakan Umeir ini menjadi kebaikan dan berkat kepada Jullas, hingga ia bertaubat dan setelah itu keislamannya menjadi lebih baik. Nabi  memegang telinga Umeir dan berkata kepadanya sambil memuaskan hatinya dengan pujian :
يا غلام … وفت أذنك …وصدّقك ربك …(الحديث)
“Hai anak muda, sungguh nyaring telingamu, dan Tuhanmu membenarkan tindakanmu.”
Amirul Mukminin Umar bin Khattab selalu berhati-hati dalam memilih para gubernurnya, seolah-olah ia memilih orang yang sama mutunya dengan dirinya. Ia selalu memilihnya dari kalangan orang-orang zuhud dan shalih, dan orang-orang dipercaya dan jujur, yang tidak mengejar pangkat atau kedudukan bahkan tak hendak menerima jabatan tersebut kecuali jika Amirul Mukminin memaksanya untuk menjabatnya.

Sekalipun pandanga tajam dan pengalamannya luas, namun dalam memilih gubernur-gubernur dan pembantu-pembantu utamanya ini beliau selalu menimbangnya dalam waktu yang panjang dan mengamatinya dengan teliti. Beliau selalu mengulang-ulang pesan atau fatwanya yang mengesankan itu sebagai berikut:

“Aku menginginkan seorang laki-laki bila ia berada dalam suatu kaum, padahal ia adalah rakyat biasa, tetapi ia menonjol seakan-akan ia lah pemimpinnya. Dan apabila ia berada di antara mereka sebagai pemimpinnya, ia menampakkan diri sebagai rakyat biasa. Aku menghendaki seorang gubernur yang tidak membedakan dirinya dari manusia kebanyakan dalam soal pakaian, makanan dan tempat tinggal. Ditegakkannya shalat di tengah-tengah mereka, berbagi rata dengan mereka berdasarkan yang hak, dan tak pernah ia menutup pintunya untuk menolak pengaduan mereka”.

Maka berdasarkan norma-norma dan peraturan yang keras inilah, ia di suatu hari memilih Umeir bin Sa’ad untuk menjadi gubernur di Hems. Umeir berusaha menolak dan melepaskan diri dari jabatan tersebut tetapi sia-sia, karena Amirul Mu’minin tetap mengharuskan dan memaksanya untuk menerimanya…, Umeir pun memohon kepada Allah petunjuk dengan shalat istikharah, dan kemudian melaksanakan tugas kewajibannya….

Dan setelah berjalan setahun masa jabatannya di Hems itu, tak ada hasil pemungutan pajak Yang sampai ke Madinah …. Bahkan tak ada sepucuk surat pun yang datang kepada Amirul Mu’minin daripadanya….
Amirul Mu’minin memanggil penulisnya, katanya: “Tulislah surat kepada Umeir agar ia datang pada kita!”
Maka di sinilah saya akan meminta keidzinan anda untuk melaporkan pertemuan di antara Umar dan Umeir, sebagaimana tercantum dalam buku saya “Di hadapan Umar”, sebagai berikut:

“Di suatu hari jalan-jalan kota Madinah menyaksikan seorang laki-laki dengan rambut kusut dan tubuh berdebu. Ia diliputi kelelahan karena berjalan jauh. Langkah-langkahnya seakan-akan tercabut dari tanah disebabkan Iamanya kepayahan dalam perjalanan, dan tenaganya yang sudah habis terkuras….Di atas pundak kanannya terdapat buntil kulit dan sebuah piring • • sedang di pundak kirinya kendi berisi air … ! Ia bertelekan pada sebuah tongkat, yang tidak akan terasa berat bila dibawa oleh orang yang kurus dan lemah …. menghampiri majlis Umar dengan langkah yang gontai, lain ucapnya: “Assalamu’alaikum ya Amirul Mu’minin .. .!” Umar membalas salamnya kemudian menanyainya. Hatinya sedih melihatnya dalam kedaan payah dan letih itu. “Apa kabar hai Umeir?” Jawab Umeir: “Keadaanku sebagaimana yang anda lihat sendiri ….
Bukankah anda melihat aku berbadan sehat dan berdarah bersih, dan dunia di tanganku yang dapat kukendalikan semauku …”

– Apa yang kamu bawa itu? — Yang kubawa ialah buntil atau bungkusan tempat membawa bekal, piring tempat aku makan, kendi tempat air minum dan wudlu, kemudian tongkat untuk bertelekan dan guna melawan musuh jika datang menghadang …. Demi Allah, dunia ini tak lain hanyalah pengikut bagi bekal kehidupanku … !

– Apakah anda datang dengan berjalan kaki? — Benar! — Apa tak ada orang yang mau memberikan binatang kendaraannya untuk kamu tunggangi …?

– Mereka tidak menawarkan dan aku tidak pula memintanya.

– Apa yang kamu lakukan mengenai tugas yang kami berikan padamu? — Aku telah mendatangi negeri yang anda titahkan itu. Orang-orang shaleh di antara penduduknya telah kukumpulkan. Kuangkat mereka mengurus pemungutan pajak dan kekayaan negara. Bila telah terkumpul, kupergunakan kembali pada tempatnya yang wajar untuk kepentingan mereka. Dan kalau ada kelebihan, tentulah sudah kukirimkan ke sini … ! – Kalau begitu kau tak membawa apa-apa untuk kami? — Tidak … !”

Maka berserulah Umar dalam keadaan bangga dan berbahagia: “Tetapkan kembali jabatan gubernur bagi Umeir … !” yang dijawab oleh Umeir dengan mengelakkan diri secara bersungguh-sungguh, katanya: “Masa yang demikian itu telah berlalu… aku tak hendak menjadi pegawai anda lagi, atau pegawai pejabat setelah anda… !”

Cerita ini bukanlah skenario yang kami atur sendiri, dan bukan pula cerita yang dibuat-buat … tetapi benar-benar peristiwa sejarah yang pada suatu masa pernah disaksikan oleh bumi Madinah selaku ibu kota Islam yakni di saat-saat kejayaan dan kebesarannya. Maka dari tipe golongan manakah tokoh-tokoh utama dan luar biasa itu … ?

Selalulah Umar radhiallahu anhu mengangankan dan mengatakan: “Aku ingin sekali mempunyai beberapa orang laki-laki yang seperti Umeir akan jadi pembantuku untuk melayani Kaum Muslimin.

Sebabnya, Umeir yang dilukiskan oleh para shahabatnya sebagai “tokoh yang tak ada duanya” benar-benar telah meningkat naik dan dapat mengatasi kelemahan dirinya selaku manusia berhadapan dengan harta benda dunia dan kehidupan yang penuh dengan onak dan duri ini …. Di waktu ia diharuskan melaksanakan pemerintahan dan pemimpin, maka kedudukannya yang tinggi itu hanya semakin menambah sifat wara’ dari orang suci ini, dengan perkembangan, pertumbuhan dan kecemerlangan….
Ketika ia menjabat sebagai gubernur di Hems itu ia telah menggariskan tugas kewajiban seorang kepala pemerintahan Islam dalam kata-kata yang selalu diutarakannya dalam menggembleng Kaum Muslimin dari atas mimbar. Kata-kata itu demikian bunyinya:
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Islam mempunyai dinding teguh dan pintu yang kukuh • • • • Dinding Islam itu ialah keadilan … sedang pintunya ialah kebenaran…
Maka apabila dinding itu telah dirobohkan, dan pintunya didobrak orang, Islam pun akan dapat dikalahkan. Islam akan senantiasa kuat selama pemerintahannya kuat. Kekuatan pemerintah tidak terletak dalam angkatan perang, atau keperkasaan angkatan kepolisian…Tetapi dalam realita pelaksana, melaksanakan segala ketentuan dengan jujur dan benar disertai menegakkan keadilan … !”

WAFATNYA

Ibn Sa’ad berkata : Ia meninggal pada masa khilafah Mu’awiyah.

Al-Waqidi berkata : Umar ibn Khattab berkata, “Saya menginginkan banyak laki-laki yang seperti Umair bin Sa’ad untuk memohon pertolongan mereka pada amalan-amalan kaum muslimin.”

Ibn Mandah meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Abdurrahman bin Umair bin Sa’ad ia berkata: Ibn Umar berkata kepadaku, “Tiadalah penduduk Syam yang lebih baik dari pada bapakmu.

Muhammad bin Sa’ad berkata : Umair meninggal pada masa khilafah Umar.

Yang lainnya berkata : (Ia meninggal) pada masa Utsman, dan datang pula dari riwayat yang lain bahwa ia meninggal pada masa Khilafah Umar dan ia (Umar) menyalatinya, dan hal itu tidak kuat. (Al-Ishabah fi Tamyizis Shahabah, Imam Ahmad ibn Ali bin Hajar Al-Asqalani (773-852 H) hal: 1009-1010, no 695)

Dan sekarang dalam kita melepas Umeir …dan menghormatinya dengan penuh kebesaran dan hati yang khusyu’, marilah kita menundukkan kepala dan kening kita: — Bagi sebaik-baik guru, yaitu Nabi Muhammad  Bagi ikutan orang-orang taqwa, yakni Nabi Muhammad . Bagi pembawa rahmat Allah yang dilimpahkan kepada umat manusia sepanjang hayatnya
Semoga shalawat dan salam-Nya terlimpah kepadanya….Begitu pun ucapan selamat dan berkah-Nya . . .Semoga terlimpah pula salam atas keluarganya yang suci …. Begitupun terlimpah atas para shahabatnva yang terpuji … !

MARAJI (Daftar Pustaka)

1. Rijal Haula Rasul – Karakteristik perihidup enam puluh sahabat Rasulullah , Khaled Muhammad Khaled. CV. Dipenogoro, Bandung. Cet.XVI, 2000.
2. Al-Ishabah fi Tamyiizis Shahabat, Ibn Hajar Al-Asqalani.
3. Shuwar min Hayatis Shahabah, Dr. Abdurrahman Raafat Basya. Daarul Adab Al-Islamy, 1418 H-1997 M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s